26 Januari 2013


Status "in relationship" rupanya memiliki arti begitu besar untuk sebagian pengguna Facebook sehingga memunculkan sebuah peluang bisnis baru. Namanya, "jasa pacar palsu". Layanan yang digagas oleh situs NamoroFake.com.br asal Brazil ini menawarkan "pacar (wanita) virtual" di Facebook seharga 40 dollar AS atau sekitar Rp 380.000.

Untuk sejumlah uang itu, pengguna bakal mendapatkan akun "pacar" lengkap yang tak hanya memuat beberapa foto, melainkan benar-benar dikelola oleh cewek sungguhan, lengkap dengan update status romantis seperti "Sayang, sedang di mana? Aku sangat merindukanmu".

Tak rela merogoh kocek sedalam itu untuk pacar palsu? NamoroFake.com yang berbahasa Portugis juga menyediakan jasa "mantan pacar" palsu seharga 19 dollar AS. Darimana datangnya pacar-pacar palsu ini? Pengelola layanan yang bersangkutan ternyata mengundang para pengguna Facebook wanita untuk mengirim profil mereka dengan iming-iming insentif 50 persen dari keuntungan yang diperoleh.

Untuk apa pula seseorang memerlukan pacar palsu di Facebook? "Kadangkala, seseorang perlu pacar palsu untuk membuat cemburu mantan pacar. Banyak klien kami datang dengan alasan seperti itu. Setelah putus hubungan, si pria ingin menunjukkan bahwa mereka sudah 'pulih' dan menemukan pengganti." Demikian bunyi penjelasan tertulis dalam situs tersebut.

Ada kalanya pula, status "in relationship" meningkatkan gengsi di mata teman-teman Facebook. Yang jelas, para klien NamoroFake.com merasa memperoleh manfaat dari pacar-pacar virtual itu. "Memiliki pacar palsu di internet bisa meningkatkan popularitas di hadapan para wanita dan meningkatkan rasa percaya diri," lanjut penjelasan dalam situs tersebut. Sejauh ini jasa pacar laki-laki palsu belum tersedia, tapi sudah direncanakan oleh situs yang bersangkutan.

07 Januari 2013


Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.

Tahun 2012 lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).

Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di blog ini, kita akan coba menelisiknya.

Pabrik Toshiba di Jepang


Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.

What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.

Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.

Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.

Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).

Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.

Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.

Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.

Budaya hormat yang lebih tua
Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.

Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.

Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.

Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.

Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.

Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.

Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.